Yahoo Web Search

  1. About 3,440 search results
  1. Penduduk Bisaya pertama kali berhubungan dengan Spanyol di akhir abad ke-16 oleh penjelajah Portugis dan Spanyol, dipimpin oleh Ferdinand Magellan, Ruy López de Villalobos dan Miguel López de Legazpi pada 1521, 1543 dan 1565 yang datang, menjelajah dan mengkolonisasi daerah itu.

  2. Orang Bisaya adalah kelompok etnis di Filipina dan Malaysia. Sebagian besar bertutur bahasa-bahasa Bisaya (e.g. bahasa Sugbo, bahasa Hiligaynon dan bahasa Waray-Waray ). Mereka tinggal di daerah Bisaya dan sebagian Mindanao. Beberapa telah berpindah ke daerah Filipian lainnya, misalnya Luzon. Imigran yang menetap di daerah Bisaya juga disebut ...

  3. Bisaya adalah penduduk asli barat laut dan pesisir Kalimantan, Malaysia. Mereka kebanyakan tinggal di dekat distrik Beaufort , Sungai Padas selain Kuala Penyu di wilayah Sabah . Terdapat juga beberapa orang Bisaya yang tinggal di Kampung Manunggang , Sabah, yang tidak beragama dan di sepanjang Sungai Limbang di utara negara bagian Sarawak .

    • Sejarah
    • Demografi
    • Pembagian Administratif
    • Media
    • Transportasi
    • Pranala Luar

    Region-region pertama kali berdiri pada tanggal 24 September 1972, ketika provinsi-provinsi di Filipina ditata dalam 11 region berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 1 sebagai bagian dari Rencana Reorganisasi Terintegrasi dari Presiden Ferdinand Marcos. Berdasarkan atas Perintah Eksekutif Nomor 183 (Executive Order No. 183) yang dikeluarkan tanggal 29 Mei 2015 oleh Presiden Benigno Aquino III, provinsi Negros Oriental dialihkan ke Region Pulau Negros.

    Berdasarkan sensus 2015, region ini memiliki jumlah penduduk 6.041.903 jiwa. Kepadatan penduduk-nya 580 jiwa/km2 (1.500 jiwa/mil2). Sensus 2015 menunjukkan rata-rata laju pertumbuhan penduduk tahunan 1,76% dari tahun 2010 hingga 2015, sedikit lebih tinggi daripada rata-rata nasional sebesar 1,72%. Bahasa Cebu adalah bahasa yang paling banyak dipergunakan di region ini. Di Kepulauan Camotes, bahasa Cebu dituturkan di Kota Tudela, Pilar, dan San Francisco, kecuali Poro. Di Pilar dituturkan bahasa campuran antara bahasa Cebuano, Hiligaynon (Ilonggo), dan Masbateño, yang disebut bahasa Porohanon.

    Bisaya Tengah terdiri atas 3 provinsi dan 3 kota independen: Negros Oriental sebelumnya adalah bagian dari Region VII. Presiden Benigno Aquino III menandatangani Perintah Eksekutif Nomor 183, yang membentuk Region Pulau Negros.

    Kota Cebu adalah penghubung media utama bagi kedua region. Jaringan-jaringan media besar, yaitu ABS-CBN, GMA Network, TV5, People's Television Network, dan CNN Filipina, mempertahankan stasiun-stasiun dan cabang-cabang lokal mereka untuk tujuan-tujuan penayangan, komersial, dan liputan berita. Sebagian besar stasiun-stasiun itu menyiarkan berita dan hal-hal umum lokal, serta hiburan dan drama-drama untuk memuaskan pemirsa lokal. Selain tersedia 24 koran harian nasional, Kota Cebu juga memiliki 20 koran lokal. Yang banyak dibaca di antaranya adalah Sun Star Cebu. Liputan berita Islam utama di Filipina, The Voice of Islam, didirikan pada tahun 1961 dan diterbitkan di Kota Cebu.

    Laut

    Pelabuhan Cebu adalah gerbang utama region ini. Ada juga pelabuhan-pelabuhan di Tagbilaran, Bohol, dan Larena, Siquijor. Pengangkutan antarpulau dilayani oleh beberapa maskapai pelayaran, dua di antaranya perusahaan kapal cepat yang melayani semua provinsi di region ini.

    Udara

    Bandar Udara Internasional Airport yang terletak di Kota Lapu-Lapu adalah bandara tersibuk kedua di Filipina (setelah Bandar Udara Internasional Ninoy Aquino di Manila) dan satu-satunya bandara di Bisaya yang melayani penerbangan internasional (selain Bandar Udara Internasional Kalibo). Bandara ini adalah penghubung utama Cebu Pacific dan penghubung sekunder bagi Philippine Airlinesdan anak-anak perusahaannya, dengan penerbangan ke tempat-tempat di seluruh negeri. Bandara ini juga melayani pe...

    Media terkait Bisaya Tengahdi Wikimedia Commons
    Panduan perjalanan Central Visayasdari Wikivoyage
    • 10.500,44 km² (405,424 sq mi)
    • Filipina
    • Nomenklatur
    • Klasifikasi Internal
    • Rekonstrusi
    • Lihat Pula

    Penutur alami bahasa-bahasa Bisaya, khususnya Cebú, Hiligaynon, dan Waray-Waray menyebut bahasa mereka dengan nama Bisaya, "Visaya", atau Binisaya. Bagi penutur Masbateño, Romblomanon, Surigaonon, dan Butuanon, istilah Visaya biasanya mengacu pada Cebú atau Hiligaynon. Karena penutur bahasa Tausug kebanyakan Muslim, mereka memandang istilah Bisayasebagai istilah religius mengacu pada orang Filipino Kristen (sebagian besar mengacu pada Cebú dan/atau Hiligaynon karena bahasa mereka berdampingan).

    David Zorc memberikan klasifikasi internal berikut untuk rumpun bahasa Bisaya (Zorc 1977:32). Lima cabang utamanya adalah Selatan, Cebú, Tengah, Banton, dan Barat. Tetapi, Zorc menggarisbawahi bahwa rumpun bahasa Bisaya lebih menyerupai dialect continuum daripada sekumpulan bahasa-bahasa yang dapat dibedakan. Bahasa-bahasa Bisaya Selatan dianggap yang pertama terdivergensi, diikuti oleh Cebú, dan kemudian tiga cabang sisanya. Selain itu, juga di Bisaya, Provinsi Romblon memiliki keanekaragaman linguistik paling banyak, karena bahasa-bahasa dari tiga cabang utama Bisaya merupakan bahasa sampingan selain bahasa pribumi Romblomanon dan Banton. Yang lebih khusus lagi, Baybayanon dan Porohanon memiliki substrata Waray-Waray, yang menunjukkan persebaran Waray-Waray lebih luas sebelum penutur Cebú berkembang secara luas mulai dari pertengahan 1800-an. Total 36 variasi seperti terdaftar di bawah ini. Bahasa-bahasa yang berdiri sendiri ditulis dengan huruf miring. 1. Bisaya 1.1. 1. Selatan (...

    David Rekonstruksi Zorc dari Proto-Bisaya memiliki 15 konsonan dan 4 vokal (Zorc 1977:201).Vowel length, primary stress (penultimate and ultimate), and secondary stress (pre-penultimate) are also reconstructed by Zorc.

    • Sejarah Bangsa Bisaya
    • Catatan Sejarah Dari China
    • Catatan Sejarah Tempatan
    • Asal Usul Perkataan Bisaya
    • Fakta Bisaya
    • Sultan Awang Koyoh
    • Ketua Kaum Bisaya
    • Peninggalan Senjata Lama
    • Adat Dan Kebudayaan
    • Kemahiran Kraftangan

    Mengikut legenda, nenek moyang Bisaya yang berasal dari barat laut borneo yang bersama satu keluarga berhijrah dan menetap di utara Pulau Borneo. Keluarga ini mempunyai 7 orang anak di mana 6 darinya lelaki iaitu Peti Berambai atau Pati Berabai, Si Garamba, Peti Garamba, Peti Runa atau Pati Bagunak, Semaun atau Si Maun dan Alak Betatar atau Urak Betatar atau Lok Batata atau Awang Alah Bertabar; dan seorang perempuan (Siti Duyah atau Duri atau Bunga Sunting). Satu pertandingan lumba perahu diadakan untuk menentukan siapakah yang layak menjadi Raja Barunai. Perlumbaan ini dimenangi oleh Alak Betatar yang paling bongsu. Dia kemudiannya dilantik menjadi Raja Bruneiyang pertama, dan kemudiannya memeluk agama islam dengan menggunakan nama Sultan Mohammad Shah, iaitu Sultan Brunei yang Pertama.

    Menurut catatan Pemerintah misi dari China, Chang Ching Tze telah diutus ke Barunai (P’o-ni) pada 1370 (Tahun Ke-3, Bulan 9 menurut kalendar Hung-wa). Beliau telah mendapati Ibu Kota Barunai dalam keadaan terbakar seolah-olah telah berlaku peperangan yang besar. Maharaja pada masa itu Sultan Mohammad Shah (Ma-ho-mo-sha [Maha Mokhsa]) dikelilingi oleh pengikutnya seramai lebih kurang 1000 orang. Baginda berkirim salam kepada maharaja China pada masa itu sebagai seorang Muslim. Ini kerana Sultan Mohammad Shah mempunyai hubungan yang kukuh dengan Maharaja China Suatu ketika dulu.

    Peti Berambai iaitu yang sulung menjadi ‘Raja Pulau Jawa’. Si Garampa pula menetap di kawasan Limbang dan menjadi nenek moyang kepada masyarakat Bisaya. Peti Geramba menetap di kawasan Tutong (Brunei), Peti Runa pula di kawasan Sungai Kinabatangan (Sabah) dan Semaun di Sungai Birau ( Selatan Tutong). Siti Duyah pula berkahwin dengan seorang berketurunan cina yang bernama Ong Sum Ping (Awang Sunting) dan menetap di kawasan Gunung Kinabalu, Sabah.

    Menurut kepercayaan tempatan, perkataan Bisaya berasal daripada sebutan “Bisai Iya” yang bermakna seseorang lelaki atau wanita nampak tampan dan gagah serta cantik molek. Dan setengah pendapat mengatakan ia berasal daripada perkataan "Ma Bisa" iaitu bermaksud bisa yang dikaitankan dengan ilmu sihir atau perubatan yang biasanya diamalkan oleh suku kaum ini pada ketika itu.Sebutan kemudian bertukar kepada Bisaya sehingga pada hari ini.Sama ada perkataan Bisaya itu berasal dari perkataan "Bisai Iya","Ma Bisa" dan "Bisa Iya" tiada kesahihan secara bertulis. Sementara itu, Beyer H.O pada tahun 1926, Hester E.D pada tahun 1954 dan Harrison pada tahun 1956 menyatakan bahawa perkataan Bisaya kemungkinan berasal dari Empayar Srivijaya (Sonza, 1972). Pada tahun 1960, John Carol menyatakan bahawa perkataan Bisaya berasal dari Pahlawan Bangsa yang bernama Śrīvijaya. Derek Headly (1950) menyatakan legenda Bisaya Borneo apabila Sultan Bruneisemasa kunjungannya untuk meninjau kawasan penduduk Bisa...

    Bangsa Bisaya adalah suku kaum asli yang telah lama wujud dan menetap di Borneo Sabahsejak beribu abad lamanya yang lalu. Bangsa bisaya pada zaman dahulu adalah merupakan suatu bangsa yang digeruni, disegani , ditakuti dan dihormati oleh suku kaum asli yang lain. Kemahiran suku kaum Bisaya di atas muka bumi Borneo Sabah ini dalam bidang pertanian seperti menanam padi, menanam halia, menanam pokok rumbia, menanam kunyit, menanam ubi, menanam pisang, menanam keladi, menanam lada, menanam kelapa, menanam pokok buah-buahan dan sebagainya. Mereka juga mahir memburu binatang liar di hutan untuk dimakan. Mereka juga menternak ayam, itik, angsa, kambing, kerbau, lembu dan lain-lain binatang sebagai makanan. Kaum Bisaya juga mahir dalam seni kraftangan dan sebahagian besar peralatan kraftangan digunakan dalam kehidupan seharian mereka. Kemahiran di sungai suku kaum Bisaya sangat mahir menangkap ikan dengan menggunakan selambau iaitu alat tradisi yang dihasilkan oleh mereka sendiri dan di lau...

    Sejarah menceritakan apabila Sultan Mohammad Shah berpindah ke negara Barunah, maka Sultan Awang Koyoh dilantik sebagai pemerintah kerajaan Barunah atau Borneo yang berpusat di Kota Klias pada tahun 1370. Sepanjang pemerintahan baginda, Borneo berkeadaan aman dan makmur serta subur. Kelebihan Sultan Awang Koyoh ialah dengan izin Allah Subhanahu wa ta'ala tanah-tanih yang di usahakan baginda akan menjadi tinggi dan subur. Hasil tanaman utamanya ialah halia seperti apa yang telah diusahakan oleh ayahanda baginda dahulu Sultan Mohammad Shah. Selain itu pohon rumbiajuga turut ditanam bagi membekalkan makanan kepada rakyat baginda disamping pengeluaran padi yang berterusan atau meranau. Baginda Sultan Awang Koyoh tidak memiliki ramai anak dan setiap anak baginda dilatih dengan ilmu perang dan mahir menggunakan pelbagai jenis senjata. Anak-anak baginda yang amat terkenal ialah Panglima OKK Setia Pahlawan Awang Kassim dan Panglima Awang Alapu atau Lapu-Lapu. Kisah penculikan Sultan Awang K...

    Lebih kurang pada abad ke-13, kaum Bisaya mempunyai ketua yang digelar sebagai Sultan Awang Alak Betatar bin Bonian Mas Kayangan. Baginda dikatakan telah memeluk agama Islam dan menukarkan namanya dengan gelaran sebagai Sultan Mohammad Shahpada tahun 1363 Masihi. Pada tahun 1370 Masihi, baginda Sultan Mohammad Shah telah melantik anak lelaki baginda yang bernama Sultan Awang Koyoh bin Sultan Awang Alak Betatar menjadi pemerintah negeri Borneo ketika itu manakala baginda Sultan Mohammad Shah telah berhijrah ke negeri Brunei dan menjadi pemerintah selaku Sultan Brunei beragama Islam yang pertama memerintah negeri Bruneipada tahun 1370 Masihi. Pemerintahan Sultan Awang Koyoh berpusat di Sungai Klias yang digelar sebagai Kota Klias pada ketika itu dan nama tersebut kekal sehingga ke hari ini. Setelah baginda mangkat iaitu lebih kurang pada tahun 1621 Masihi, pemerintahan baginda telah diwarisi oleh anak baginda yang bergelar Sultan Panglima Orang Kaya Kaya Setia Pahlawan Awang Kassim pa...

    Sejarah perjalanan Awang Alak Betatar sebenarnya telah menempuh pelbagai onak dan duri yang bertali arus. Secebis kisah yang tidak diuar-uarkan ialah perjalanan pertama baginda ke gunung Kinabalu yang mana telah membawa penemuan besi tahi bintang atau Karusani. Setelah berjaya menumbangkan tembadaubertanduk emas yang selama ini merosakkan tanaman halianya, tanpa disedari pemburuan tersebut membawa baginda ke gunung Kinabalu. Besi tahi bintang yang diperolehi baginda telah ditempa menjadi dua bilah pedang yang panjang dan berwarna hitam. Menurut maklumat yang diperolehi, semasa Awang Alak Betatar menguasai kerajaan Barunah, bersama-sama baginda tersisip sebilah pedang dipinggang baginda sebagai senjata dalam perjuangan menegakkan kalimah Allah Azza wa jalla. Sebilah pedang lagi baginda titipkan kepada anakanda baginda Sultan Awang Koyoh. Oleh itu, senjata yang menjadi tanda keturunan baginda telah hilang dan menjadi misteri sehingga kini. 1. Keris sebenar mempunyai 15 luk Menurut cer...

    Kaum asli Bisaya mempunyai adat yang diwarisi daripada nenek moyang mereka sejak turun-temurun. Contohnya, orang muda kaum asli Bisaya mesti menghormati orang dewasa kaum asli Bisaya. Anak gadis kaum Asli Bisaya mesti pandai menjaga kesopanan dan kesusilaan. Kebudayaan Kaum Asli Bisaya adalah seperti: 1. Tarian Liliput Bisaya 2. Tarian Jipin (Zapin) Bisaya 3. Tarian Sayau bagarus (Tarian menggarus batang rumbia) 4. Tarian Mengalawat (Tarian memijak hempas batang rumbia) 5. Tarian Minsayau (untuk meraikan kejayaan mengalahkan lanun) 6. Alat tradisional kulintangan Bisaya yang mempunyai 27 lagu dan 3 lagu berkaitan acara berasik 7. Pencak silat Bisaya dengan muzik bamboo 8. Tarik tali 9. Bermain gasing 10. Bermain layang-layang 11. Ugang Bamboo 12. Badaup terutama semasa menuai padi 13. Mibulang iaitu penggunaan binatang Kerbau 14. Tarian Bubu Mangalai dengan menggunakan jampi serapah 1. Berambit/Bahambit 2. menimbang anak kecil yang lahir pada bulan Safar 3. Lastik/Melastik 4. Panah/...

    Seperti juga dengan kaum-kaum lain di sabah, kaum bisaya mempunyai kraftangan mereka sendiri. Kraftangan mereka adalah berkaitan dengan kegunaan harian seperti menanam padi, mengangkat bahan-bahan harian, membuat sagu dan menangkap ikan. Antara yang terdapat di sini ialah kalambigas, lasok dan salihid.

  4. Bisaya is an indigenous people from the northwest coast of East Malaysia on the island of Borneo. Their population is concentrated around Beaufort, Kuala Penyu, Menumbok, Sipitang, Labuan Federal Territory and in Limbang District, Sarawak. The Bisaya tribe has many similarities with the Dusun Tatana tribe, especially in terms of language.

  1. People also search for